Ocekaye Experience & Journey

Pertemuan Singkat nan Berkesan

Pertemuan Singkat nan Berkesan

Kediri, 1 Maret 2016; pukul 13.40;

Saya berangkat dari Stasiun Besar Kediri, berangkat meninggalkan papa yang sedang sakit, apa daya tidak mungkin juga saya membagi diri untuk mengejar target lulusku dengan menjaga orang tua. Siang itu akhirnya saya bertolak dari Kediri menuju Bandung dengan menggunakan kereta Kahuripan jurusan Kediri-Kiaracondong. Perjalanan terasa biasa saja, kursi yang seharusnya dapat diisi 3 orang tetapi selalu kosong dari perjalananku dari Kediri, sampai pada Stasiun Lempuyangan Jogjakarta, dari stasiun itu masuk lah seorang nenek ke gerbong 3, duduk persisi di samping kursi yang saya tempati, beliau duduk di kursi untuk 2 orang.

Kereta kembali berjalan, beliau masih bercengkrama dengan orang yang ada di depannya, sampai pukul 23.40an, kurang lebih hampir jam 12 malam semua penumpang sudah terlelap, tinggallah saya dan beliau yang masih terjaga. Dari situ saya memulai pembicaraan

“Ngapunten, badhe tindak dateng pundi bu?”

(permisi, mau pergi kemana bu?)

“niki saking jogja badhe dateng bandung mas”

(ini dari jogja mau ke bandung mas)

“dateng jogja wonten nyambut damel nopo griyanipun njenengan jogja?”

(di jogja kerja apa rumahnya ibu jogja?)

“griya kulo sanes jogja mas, kulo namung ningali putro, griyo kulo asli bandung, perantauan saking malang

(rumahnya saya bukan jogja mas, saya cuma lihat putra, rumah saya asli bandung, perantauan dari malang)

pembicaraan mengenai perkenalan berlanjut, beliau memberitahukan rumahnya di rancaekek, pembicaraan pun terus berlanjut, semakin saya tertarik dengan beliau karena banyak pesan moral yang saya dapat dari beliau. Saya pun kembali bertanya

“menawi dateng bandung sampun pensiun nopo nyambut damel bu?”

(kalau di bandung sudah pensiun apa masih bekerja bu?)

“kulo taksih nyambut damel mas”

(saya masih bekerja mas)

“nopo mboten pensiun mawon bu?”

(kenapa tidak pensiun saja bu?)

“kulo mboten saget menawi kagungan arta saking putro mawon, kulo nggeh taksih pengen nyambut damel mas, kersane saget produktif, ngaten niki kulo taksih kiat nyambut damel enjing ngantos sonten”

(saya tidak bisa kalau punya uang dari putra saja, saya juga masih ingin bekerja mas, biar bisa produktif, kayak gini saya masih kuat bekerja dari pagi sampai sore)

“ngaten niki njenengan mboten kalian sinten-sinten? piambakan mawon?”

(seperti ini ibu tidak sama siapa-siapa?, sendirian saja?)

“piambakan mawon mas, pun sepuh ngaten niki, putro nggehpun nyambut damel sedoyo, kulo mboten sekeco menawi taksih nggantungaken kalian putro, niki mangke mawon kulo ngantos griyo iam rumiyin, bibar niku nyambut damel, mlebete jam 7, kulo buruh pabrik konveksi mas”

(sendirian saja mas, walaupun sudah tua seperti ini, putra juga sudah bekerja semua, saya tidak enak kalau masih menggantungkan sama putra, ini aja nanti saya sampai rumah mandi dulu, setelah itu bekerja, masuk jam 7, saya buruh pabrik konveksi mas)

Setelah mendengar cerita beliau panjang lebar, walaupun yang saya tulis ini mungkin hanya sebagian kecil yang saya dengarkan dari beliau, tetapi saya mendapatkan beberapa poin luar biasa. Beliau sudah umur 62 tahun, dengan anak 4 yang sudah bekerja semuanya tetapi semangat untuk tetap giat bekerja masih sangat tinggi, semangatnya untuk tetap produktif, tidak ingin menggantungkan hidupnya kepada anak”nya, tidak lemah.

Kemudian perjuangan seorang ibu untuk menengok anaknya yang saat itu dinas di Jogjakarta, beliau sendirian pulang-pergi Jogja-Bandung. Setelah pulang ke Bandung, kereta yang sampai pukul setengah 4, beliau langsung ke Rancaekek untuk pulang mandi dan bekerja pukul 7 nya, luar biasa menurut saya, seorang ibu yang masih bisa membagi waktu pekerjaan dan waktu untuk anak”nya di usia senjanya

Terimakasih, telah memberikan experience yang luar biasa bagi saya, banyak ilmu hidup yang saya dapatkan dari ibu, walaupun tadi saya lupa untuk bertanya nama dan alamat lengkap karena saking antusiasnya mendengar ibu tetapi saya akan selalu ingat pesan-pesan moral yang ibu amanahkan kepada saya walaupun nantinya tidak akan bertemu kembali

Hati-hati di jalan bu, semoga langkahmu selalu pada Ridho Allah SWT, amin …. 🙂

 

Bandung, 2 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *